Nasib Arca Keramat yang Penuh Lika-liku dan Nyaris Buntu

By Miyoko Kato & Sapar Dharmapala

Pada tahun 1813, setahun setelah penyerbuan ke Keraton Yogya, dan tepat 7 tahun setelah H.C. Cornelius menerbitkan litograf pertamanya atas pembersihan Candi Sewu, James Crawfurd dan Collin Mackenzie (asisten Raffles yang membantu dalam mendokumentasikan masyarakat di Pulau Jawa) dikejutkan dengan sebuah situs reruntuhan dengan serakan dan timbunan berupa patok, tugu, serta arca dalam bentuk yang disebut Lord Pinto sebagai “liar, takberkaitan dan membingungkan”. Situs ini ditemukan oleh Henry Irving, salah satu anggota tim ekspedisi babat alas yang diutus oleh penguasa kolonial saat itu (Morgan 1989: 73). Temuan arca dengan ornamen-ornamen figur yang sulit dilacak kesamaannya dengan dewa-dewi yang hadir dalam sejumlah candi temuan Raffles di Jawa Tengah-Jawa Timur itu ditulis (dalam surat laporan Irving) berada di sebuah dataran tinggi yang disebutnya “Gono Mangala-sangid”.

Sejumlah sarjana memperkirakan bahwa lokasinya berada di Desa Pacangan, yang dianggap sebagai daerah perdikan untuk pertapaan di daerah Gunung Pugawat; sebagian lagi berasumsi lokasinya berada di dekat Gunung Wukir (Rabut Jalu), sebuah gunung suci tempat bersemadi—menurut Pararaton (1613), gunung ini berhadapan langsung dengan desa yang dipercaya sebagai tempat Ken Arok memesan keris pada Mpu Gandring untuk membunuh Tunggul Ametung. Sebagian ahli yang lain tampaknya lebih berhati-hati dengan penetapan lokasi situs ini, dan menganggap Irving telah salah mengartikan nama lokasi penemuannya karena ketidakmampuannya berbahasa lokal, sehingga sampai sekarang tidak bisa dipastikan lokasi tepat area yang disebutnya sebagai “Gono Mangala-sangid” (Gunung Manggala-Sangit). Meski demikian, untuk mempermudah penamaan, terbentuklah konsesi penyebutan situs ini sebagaimana Irving menamainya pertama kali. Sejumlah ahli memperkirakan bahwa letusan dahsyat Tambora pada tahun 1815 telah menimbun kembali jejak-jejak bongkaran Irving dan pasukan khususnya (Ramsey 1891: 98-107, dalam Morgan 1989: 224-226).

Terkait hal tersebut, pada tahun 2014-2016, Centre for Tanah Runcuk Studies (CTRS) menugaskan Kusbirin untuk melakukan serangkaian studi mendalam dan penelusuran kembali atas situs Gono Mangala-sangid. Dalam laporan sementara Kusbirin  (2015) yang merujuk pada laporan Irving (1813), dalam situs tersebut telah tercatat ditemukan patung/arca yang (kemungkinan) merupakan sosok rohaniwan/pemuka agama, yang berdiri di atas gunungan tengkorak seraya memegang topeng. Berdasarkan penelitian lanjutan Kusbirin, patung batu tersebut berfungsi  sebagai tugu peringatan dan kutukan, dikenal sebagai Tugu Patung Gono Manggala-Sangid, atau Tugu Kutukan Sangit (Kusbirin, 2016: 3-20). Amat disayangkan penelitian Kusbirin tersebut terpaksa dihentikan karena alasan diplomasi institusional terkait peminjaman artefak yang terlampau berliku dan buntu.

Setahun berlalu, di bawah arahan Mochtar Kadang, Unit Diplomasi dan Peninjauan Benda Keramat dan Kepurbakalaan (UDPBKK) dari CTRS mengambil alih penelitian Kusbirin. Dalam sekuel penelusuran tersebut, ditemukanlah petunjuk-petunjuk baru yang mengarahkan pada temuan lain yang—meminjam kembali keterkejutan Lord Pinto— kian “liar, membingungkan dan tak berkaitan”. Setelah melakukan serangkaian pendalaman dan pencocokan sumber primer, UDPBKK meyakini bahwa tak hanya tugu peringatan dan kutukan, namun tim ekspedisi Irving pada 1813 juga memboyong serta Arca Siluman Macan dari Situs Gono Manggala Sangid. Kajian khusus terkait Arca Siluman Macan bisa dibilang langka dan nyaris tidak tersedia. Arca Siluman Macan inilah yang sangat besar kemungkinannya tidak pernah dilaporkan dan bisa jadi sengaja “dilenyapkan” dari pengarsipan kerajaan dan pemerintah kolonial.

Pada hari-hari yang dipenuhi gelora penjelajahan, temuan Irving pada masa itu dianggap “kurang mengesankan” dan hanya menjadi buah bibir yang sebentar saja. Perhatian publik tercuri pada penemuan sejumlah candi “raksasa” di daerah Jawa Tengah, termasuk Boro bodo (Candi Borobudur). Proyek pembersihan candi ini digerakkan oleh Raffles di bawah debar gairah dan antusiasmenya atas “Timur”. Penemuan Borobudur menjadi kejutan lain yang berhasil membangun kembali imajinasi tentang masa lalu Jawa yang telah terlupakan. Penyelidikan dan pembersihan tersebut dilakukannya pada tahun 1814, dengan mengutus H.C. Cornelius. Setahun kemudian bersama Thomas Walker Horsfield (1773-1859), seorang naturalis dan ahli kedokteran berkebangsaan Amerika, Raffles juga menemukan Candi Panataran (Azhar dalam Raffles, 2014: ix). Menurut Raffles, pada masa itu Tuan Engelhard (Gubernur Semarang Terdahulu) juga mengkoleksi benda-benda langka peninggalan purbakala yang secara umum periode pembuatannya tidak diketahui dengan pasti. Raffles juga memindahkan sejumlah arca-arca batu di sekitar Singasari, dan Borobudur ke Inggris (Raffles, 2014: 398-400).

Merujuk pada disertasi Roger Beaumont, hal yang mencengangkan dalam catatan penemuan Irving (dalam Beaumont 1920:142-144) adalah penelusurannya yang memaparkan bahwa dalam radius hampir setengah kilometer dari reruntuhan di “Gono Manggala-sangid”, timnya menemukan sebuah area kuburan massal yang berisi lebih dari 3500 kerangka manusia; terpendam di dalam tanah setebal kurang lebih satu setengah meter![sic!] Penemuan itu membangkitkan spekulasi tentang pemusnahan yang pernah terjadi, dan mengalami perulangan dalam perjalanan sejarah.

Beaumont (1920:145-150, dalam Lee, 1983:367-532) mengasumsikan bahwa kemungkinan kerangka itu merupakan kelompok pendukung Anusapati yang (sengaja) dimusnahkan oleh masyarakat di sekitarnya di bawah tekanan raja Tohjaya. Sedangkan menurut Cohen (1965: 75-91), sejarawan yang melakukan studi khusus atas arsip- arsip tentang Henry Irving dan relief yang terukir dalam artefak ini, hampir bisa dipastikan pembantaian tersebut diorganisir para elit dan rohaniwan di bawah pengawasan Pranaraja, pembantu Tohjaya. Pendukung Anusapati dianggap mengidap penyakit bertulah yang turun dari Tunggul Ametung dan Anusapati. Tohjoyo mendapat wangsit, bahwa rupanya penyakit ini belum berhasil disucikan sepenuhnya melalui perkawinan Arok-Dedes, maupun matinya Tunggul Ametung dengan Keris Mpu Gandring. Pembersihan ini merupakan sebuah tugas suci yang harus dilunasi Tohjoyo demi kejayaan Tumapel. Beaumont juga berasumsi bahwa komunitas pesakitan yang dianggap mengancam ini dijarah dan dimusnahkan oleh para pendekar utusan raja, kemudian dikubur bersama benda-benda ritual mereka.

Menurut Kusbirin, Tugu Kutukan Sangit sendiri dibangun sebagai tanda peringatan agar orang tak mencoba mendekat ke daerah yang dianggap sebagai sarang penyakit, atau mereka akan bernasib sama: binasa dan berakhir dalam bau menyengat seperti kerak gosong atau hangus [sangit] (Kusbirin 2016: 23-25). Awalnya sejumlah ahli dalam “Royal Archaic Society” menduga bahwa kuburan massal itu merupakan jejak dari pembantaian yang terjadi pada abad 17 di sebuah benteng bernama Mesir di daerah Banyumas. Pembantaian yang dirujuk tersebut memunculkan (kembali) nama Namrud, seorang petualang dengan etnisitas yang tak jelas [Ricklefs menduga bahwa orang bernama Namrud ini—merujuk pada tokoh raja sedunia bernama Namrud dalam tradisi Islam yang memberontak Allah—bukan merupakan orang Jawa] menolak Susuhunan Kartasura baru, Amangkurat II, dan sekutunya Kompeni Belanda. Namrud dan benteng pusatnya yang berada di dekat Slinga [Slingo](sic) di Banyumas diberi nama “Mesir”. Pada 1681 “Mesir” di Tanah Jawa itu dihancurkan oleh gabungan tentara VOC dan Kartasura. 2000 orang pendukung Namrud, termasuk perempuan dan bayi, dibunuh. Demikian bersamanya nama “Mesir” hilang dari sejarah Jawa (Ricklefs 1993:64- 6; Ricklefs 2015; 86-67). Namun dalam penelusuran lebih lanjut, spekulasi itu luput.

Puing-puing peninggalan tugu peringatan dan komunitas yang ‘musnah’ di Gono Manggala-sangid diangkut oleh Irving, dan dikumpulkan oleh Tuan Engelhard dan Raffles dengan kapal Ophelia untuk diteliti lebih lanjut bersama Royal Archaic Society di Britania.  Amat disayangkan, ketidakberhasilannya dalam menjawab teka-teki yang disusul dengan bubarnya “Royal Archaic Society”—karena perseteruan internal dengan pihak kerajaan—membuat arsip (dan manuskrip) tetang komunitas ini mengambang dan luput dari perhatian penelitian sejarah dan kepurbakalaan. Sementara itu dalam senyap, Arca Siluman Macan diketahui berlayar ke arah yang berbeda 3 tahun kemudian. Hingga tulisan ini dibuat, tidak pernah diketahui secara pasti motif Henry Irving melenyapkan segala informasi tentang Arca Siluman Macan.

Secara mengejutkan pada tahun 2017, Museum of The Tropica Orientalia   (MoTTO) mengklaim memiliki Arca Siluman Macan teronggok dalam gudang penyimpanan pengap mereka. Pihak MoTTO mengklaim arca tersebut merupakan sumbangan seorang filantropi eksentrik yang tergesa-gesa pergi ke Amerika Latin, tak berselang lama setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II. Filantropi sekaligus kolektor jimat dan benda keramat eksotis tersebut diduga memiliki afiliasi dengan Nazi, dan hal inilah yang agaknya membuat MoTTO tak pernah mencantumkan Arca Siluman Macan dalam katalog resmi mereka. Secara mengejutkan, resesi ekonomi yang disambut dengan pemotongan luar biasa anggaran  kebudayaan telah memaksa museum kolonial yang kepalang tua ini mengadakan lelang terbuka atas artefak koleksi mereka di awal 2018. Setelah melalui tarik-ulur diplomasi dan korespondensi, akhirnya pada tahun 2020  MoTTO bersedia mengembalikan artefak misterius dan keramat ini sebelum nyaris “dilepasliarkan” di balai lelang. Melalui Unit Diplomasi dan Peninjauan Benda Keramat dan Kepurbakalaan, Museum of The Tropica Orientalia mencatatkan artefak ini sebagai hibah dengan Surat Keputusan No. 138/TR/51b tahun 2020 Tentang Benda Eksotis.

 

 

KEPUSTAKAAN

Beaumont, Roger. 1920. Tragedy and Memory of Eden in The East.

New York: Barnes & Finn

Bergmann, Samm. 1956. Cultural Artefacts Cases in The Colonial Age. Apollo-Historia

[Journal]. halaman 62-41

Carey, Peter. 2011. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tantanan Lama di

Jawa 1785-1855 (Jilid 1 & 2). Jakarta: KPG

Carter, Marshall. 1975. Treasures from The Third World . Berkeley: New Capital Press

Cohen, Richard. 1965. Memory for the Realms of Flesh, Blood and Golds: A Reading on

Henry Irving’s Cultural Artifacts . New York: Free Haven

Godfrey, Michelle. 1960. Archipelago and Indiegenous. Chicago: Rothfield Press

Kusbirin, Daliho. 2016. Report on The Study of Tugu Gono Manggala-Sangid (1171 Saka)

by Henry Irving (1813). Mokelau: CTRS Press

Lee, Kevin. 1983. Vanished Communities in History. London: Rectoverse

Lombard, Denys. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid 1&2). Jakarta: Gramedia &Forum

Jakarta-Paris dan Ecole francaise d’Extreme-Orient

Majalah Tempo edisi 10 Mei 2015

Morgan, Donald. 1989. The Hidden East : an Introduction to The Lost Civilization in

The Ring of Fire. Chicago: Rothfield

Raffles. Thomas Stamford. 2014 The History of Java. Ed: Hamonangan Simanjuntak &

Revianto B. Yogyakarta: Narasi

Ricklefs, M.C. & P. Voorhoeve. 1977. Indonesian Manuscript in Great Britain;  A Catalogue of

Indonesian Manuscript in British Public Collections.  London: Oxford University Press.

van der Chijs, J.A. 1864. Bijdragen tot de geschiedenis vat het inlandsch onderwijs in

Nerderlandsch-indie, aan officiele bronnen otleend, in TBG 16, 212-323

Vlekke, Bernard H.M. 2008. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG (Kepustakaan

Populer Gramedia

 

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter